Keluarga
Mahasiswa Teknik Industri
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh..
Selamat Pagi Dunia :D
Seneng banget nih hari ini saya
bisa kembali menulis sesuatu, hehe. FYI, hari ini saya sudah kembali ke Depok
loh! Ya, saya mahasiswa ITB yang berasal dari Depok. Nah, hal itu menimbulkan
banyak kontroversi loh kawan! Ketika berkenalan dengan orang lain, terutama
sesama mahasiswa, dan saya mengatakan kalau saya berasal dari Depok, akan
banyak pertanyaan yang cukup menggelitik,
“loh, kamu dari Depok? Kok nggak
kuliah di UI aja? Kan deket?”
Jeng jeng...! Kalau temen – temen
jadi saya, apa yang akan temen – temen jawab, ketika pada kenyataanya, kita
adalah seorang yang memang dari awal sudah bercita – cita dan berkeinginan untuk
bersekolah di luar Depok, karena sudah merasa bosan, setelah bersekolah dari TK
sampai SMA di situ – situ aja (baca: Depok)? Nah! Betul sekali! Jawabannya
adalah minat, hehe. Jadi, saya memang sudah ‘muak’ muter – muter aja di Depok
(lebay), hehe. Ketika saya memutuskan untuk berkuliah di luar Depok (sekitar
kelas 2 SMA), pilihan saya jatuh kepada 2 opsi, yang pertama adalah Teknik
Perminyakan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi
Bandung (TM FTTM ITB), dan yang kedua adalah bersekolah di Jepang, melalui
sebuah lembaga pemerintahan jepang yang menyediakan pelayanan beasiswa bagi
calon mahasiswa asing (non-Jepang), Monbukagakusho. Saya mendaftar ke Monbusho
tetapi gagal pada tes tertulis, mungkin saya kurang pintar untuk bisa
bersekolah di Jepang ya, haha. Opsi pertama saya perjuangkan dengan tekun
belajar dan bervisi. Selama SMA (sejak kelas 2), saya selalu menyempatkan diri
untuk ‘mampir’ ke ITB setiap ada event – event besar yang diadakan oleh ITB,
seperti Open House ITB, ITB Fair, Pasar Seni, bahkan OHU pun saya datangi
(ketika datang ke OHU, saya masih kelas 3 SMA), hehe. Minat itu pun semakin
besar dengan kunjungan rutin saya ke gedung Basic Science Center B (tempat
perkuliahan Teknik Perminyakan) dan berfoto di sana setiap saya mampir ke ITB.
Pokoknya, cita – cita saya saat itu sudah sangat jelas dan tergambar.
Ketika waktunya datang,
pendaftaran SNMPTN Undangan, saya merasa antusias sekali dan mendafatar FTTM
ITB sebagai pilihan pertama dan satu – satunya pilihan (ini saran dari guru BK
saya loh, hehe). Bisa dibilang, saya cukup optimis untuk bisa lulus SNMPTN
Undangan ini dan menjadi mahasiswa FTTM ITB. Tetapi Allah berkehendak lain,
ternyata saya tidak diterima di FTTM ITB, dan saya harus melanjutkan perjuangan
melalui SNMPTN Tulis. Ada sebuah kisah menarik di sini, ketika saya sedang
mengisi form pilihan jurusan di website SNMPTN Tulis dan hendak mengisi FTTM
ITB sebagai pilihan pertama dan FITB ITB sebagai pilihan kedua, datanglah Ibu
saya dan beliau sedikit bercerita, bahwa sebenarnya, dia sangat tidak setuju
kalau saya berkuliah di Teknik Perminyakan, beliau khawatir ketika nanti saya sudah
bekerja, akan meninggalkan keluarga (oragtua, adik – adik), maupun calon
keluarga (Istri dan anak – anak saya nanti, maksudnya, hehe). Di situ saya
cukup terkejut dan berpikir sesuatu,
“kok baru bilang? Kalo pas SNMPTN Undangan gua keterima di FTTM gimana
tuh?”,
tepat sesaat setelah saya berpikir demikian, muncullah
pemikiran lain,
“waduh, jangan – jangan gua nggak diterima di FTTM gara – gara nyokap
nggak ridho nih?”,
begitulah, ternyata selama ini Ibu saya tidak merestui saya
jika nantinya saya berkuliah di bidang Perminyakan. Nah, maka saat itu, saya
berunding dengan Ibu saya dan menyerahkan pemilihan fakultas saya kepada
beliau. Ketika saya tinggalkan beliau untuk beberapa saat dan kembali, ternyata
beliau sudah memilih, dan yang beliau pilih adalah Fakultas Teknologi Industri
ITB. Saya lebih terkejut lagi karena yang beliau pilih adalah FTI, fakultas
yang passing grade-nya lebih tinggi dari FTTM. Saat itu saya merasa pesimis
bisa lolos pilihan pertama, maka sejak saat itu saya memantapkan diri saya
untuk bisa mendapat pilihan kedua, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB,
saya terus berdoa dan mencari tahu segala sesuatu tentang FITB ITB sampai
akhirnya saya memilih untuk masuk jurusan Oseanografi (bukan Geologi maupun
Geodesi, karena menurut Ibu saya masih mirip – mirip perminyakan) nantinya jika
saya diterima di sana. Pikiran untuk bisa diterima di FTI (pilihan pertama
SNMPTN Tulis) sudah benar – benar saya hapuskan.
Tetapi lagi – lagi Allah
berkehendak lain. Ketika pengumuman SNMPTN Tulis, saya berkumpul bersama
keluarga dan membuka pengumumannya bersama – sama. Proses login pun menjadi
sesuatu yang paling menegangkan.
“SELAMAT! ANDA DITERIMA PILIHAN
PERTAMA, FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG”,
kira – kira seperti itulah bunyi tulisan yang kami baca.
Saya terdiam. Saya terharu. Saya meneteskan air mata. Tidak percaya.
“mungkin inilah yang dinamakan ridho seorang Ibu”
begitu pikirku. Saya pun langsung menghampiri Ibu saya dan
memeluknya. Sangat erat. Pengorbanan beliau sungguh besar sampai saya bisa
diterima di FTI ITB ini. Bisa teman – teman bayangkan, beliau mengantar, menemani,
dan menunggui saya selama saya melaksanakan tes tulis SNMPTN selama dua hari
berturut – turut. Beliau pula yang menemani dan melayani kebutuhan belajar
saya. Sungguh tak bisa tergambar suasana saat itu.
Euforia
pengumuman SNMPTN Tulis terasa sampai beberapa hari. Ketika akhirnya saya
sampai di bandung dan memulai kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa FTI ITB,
saya masih lebih sering menyempatkan waktu untuk bermain. Sedikit sekali ada
pikiran untuk belajar, karena saya berpikir bahwa TPB akan sama saja dengan
SMA. Tapi ketika perkuliahan sudah dimulai, barulah saya merasakan bahwa kuliah
itu tidak sama dengan SMA. Ditambah lagi, dengan ketidaktahuan saya tentang
jurusan – jurusan di FTI, yang belum saya ketahui sebelumnya sama sekali.
Ketika awal saya dihadapkan pada 4 pilihan jurusan pada fakultas yang saya
tidak harapkan untuk masuk ke dalamnya, saya merasa bingung. Teknik Kimia
dengan sistem belajarnya yang ‘nggak ada matinya’, Teknik Fisika dengan osjurnya
yang mantap, Teknik Industri dengan tugas – tugasnya yang sangat banyak dan
menyita waktu, dan Manajemen Rekayasa Industri, si anak baru yang dianggap
sebagai jurusan yang paling santai di FTI. Saya bingung, ada 2 pilihan yang
muncul di benak saya saat itu, yang pertama adalah TF dengan segala peralatan
canggihnya, atau MRI dengan waktu luangnya. Setelah menjalani serangkaian
kadwil, FTI Motivation Day, MRI Info Day, dll, akhirnya saya memutuskan untuk
memilih MRI, sebuah jurusan baru, pecahan dari Teknik Industri, yang
diceritakan sebagai jurusan yang memiliki banyak waktu luang karena jumlah
perkuliahannya yang terbilang masih sedikit. Ada beberapa tujuan saya waktu
itu, yang pertama, dengan keluangan waktu itu, saya berharap masih bisa aktif
di Unit Kegiatan Mahasiswa yang saya ikuti. Sampai saat ini, tercatat ada 3 unit
yang masih saya ikuti dan aktif di dalamnya, Atletik Ganesha (Atlas), Genkai
Shikaku Bunka Kenkyukai (Genshiken), dan Kelompok Studi Ekonomi dan Pasar Modal
(KSEP), selanjutnya adalah untuk aktif di Kementrian Kewirausahaan Kabinet
Keluarga Mahasiswa ITB, yang berikutnya adalah sebagai sarana mewujudkan cita –
cita yang telah saya revisi, sejak mengenal KSEP, saya tertarik dalam dunia
ekonomi, bisnis, dan finansial, dan bertekad menjadi seorang Konsultan di
bidang Financial Engineering, dimana
MRI memiliki kurikulum yang menjurus ke sana, dan yang terakhir, adalah untuk
aktif di himpunan, KELUARGA MAHASISWA TEKNIK INDUSTRI.
Untuk yang
terakhir, ada perhatian khusus dari diri saya sendiri. Saya bertanya – tanya,
sebenarnya apa itu Himpunan Mahasiswa Jurusan? Apa pentingnya saya ikut
himpunan? Apa yang bisa saya lakukan di dalam himpunan? Apa yang bisa saya
dapat dari himpunan? Berjuta pertanyaan muncul dalam benak seorang mahasiswa
TPB yang sedang memasuki proses Ospek Jurusan. Mereka sedang melakukan
serangkaian proses kaderisasi untuk bisa masuk ke dalam Himpunan Mahasiswa
Jurusan dalam jurusan mereka masing – masing. Apa tujuan mereka ikut osjur? Apakah
mereka terpaksa, karena jika tidak ikut akan dikucilkan? Ataukah sekedar ikut –
ikutan? Atau memang ada yang berniat untuk mendapatkan hikmah dan pelajaran
yang sedang diturunkan oleh senior mereka dalam budaya kaderisasi khas Kampus
Ganesha? Atau memang ada yang nantinya ingin aktif di dalam himpunan yang sedang
mengadakan osjur tersebut?
Jujur dari
dalam diri saya pribadi, saya memiliki tujuan terhadap 2 hal terakhir yang
disebutkan. Bagi saya, osjur adalah sarana bagi para calon anggota himpunan
untuk bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan di awal tadi tentang Himpunan
Mahasiswa Jurusan tadi. Jika dalam konteks PPAB MTI, maka saya memiliki jawaban
tersendiri atas pertanyaan – pertanyaan tentang apa yang akan saya lakukan
ketika sudah menjadi anggota Keluarga Mahasiswa Teknik Industri.
Bagi seorang
koleris – melankolis seperti saya, dibutuhkan sebuah usaha lebih untuk bisa
memimpin sesuatu, karena sifatnya yang senang memerintah tetapi cenderung
lembek, untuk itulah, saya berharap, di MTI nanti saya bisa menjadi seorang
pemimpin yang bisa benar – benar memimpin apa yang seharusnya, dengan sebenar –
benarnya. Sudah terpikirkan dalam benak saya, apa yang ingin saya lakukan nanti.
Dalam rangka menyambut minat saya yang besar terhadap dunia ekonomi dan bisnis,
menjadi anggota Badan Keuangan dalam struktur Badan Pengurus MTI bisa menajadi
sarana pembelajaran yang sangat bagi saya. Di dalam sana, sudah terpikirkan
oleh saya apa yang hendak saya lakukan. Berhubung saya adalah anggota dari
Deputi Pengembangan Usaha (DPU) Kementerian Kewirausahaan Kabinet KM ITB, saya
mempunyai tujuan yang jelas seperti yang tertuang dalam proker DPU, yakni
menciptakan sustainability income
bagi himpunan – himpunan mahasiswa jurusan, dalam hal ini MTI. Beberapa kali
saya mendengar bahwa ternyata MTI sendiri sudah mempunyai pemasukan tetap bagi
keuangannya, seperti membuka jasa Foto Copy, Warung Bakso, dll (CMIIW). Jika memang
itu yang terjadi, mungkin saya bisa mengembangkan hal – hal tersebut menjadi sesuatu
yang bersifat lebih sustain dan long term. Atau mungkin saya bisa
menambahkan bidang – bidang pemasukan baru bagi keluarga saya tercinta ini
nanti.
Sebenarnya saya
juga memiliki minat – minat terhadap bidang lain yang ada di MTI, seperti
MTI-Consulting karena saya memang bercita – cita menjadi konsultan, Olahraga
dan Kesenian karena saya hobi berolahraga, Seni dan Budaya karena saya menyukai
musik, Community Development maupun Community Service karena saya ingin
berkontribusi bagi masyarakat. Tapi mungkin, minat – minat saya itu tidak bisa
saya jalankan semuanya di MTI, setidaknya, minat tersebut bisa tertuang dalam
kontribusi aktif saya dalam mengikuti kegiatan atau acara dari bidang tersebut,
yang menurut saya perlu saya ikuti dan menjadi bagian (baca: panitia) di
dalamnya.
Ketika berbicara
tentang minat, memang rasanya kita ingin melakukan semua yang kita ingin
lakukan, memuaskan semua hasrat kita terhadap apapun yang menjadi minat kita, tetapi
kadang, waktu dan prioritas menjadi hal perlu dipertimbangkan, maka wajar, jika
keiginan dan cita – cita itu adalah sesuatu yang kita rancang dan rencanakan
sejak awal. Tak jarang pula, cita – cita dan harapan perlu kita revisi,
menyesuaikan dengan keadaan sekarang serta keadaan yang akan datang. Maka, jika
pada akhirnya saya tidak menjadi apa yang saya sebut dan inginkan, itu bukanlah
karena faktor dalam diri saya yang menyebabkannya, seperti kemalasan,
ketidakmauan, dsb, melainkan karena faktor penyesuaian. Jujur saya adalah
seorang yang bisa dibilang perfeksionis, saya akan merasa ada yang sangat
mengganjal jika ada suatu pekerjaan atau jabatan yang belum bisa saya
selesaikan dengan benar. Berangkat dari situ, saya menjadi seorang yang
mempunyai semangat juang dalam menyelesaikan segala sesuatu.
Berbicara tentang
cita – cita, ada satu hal yang menjadi penting bagi saya ketika saya mengikuti
rangkaian kegiatan PPAB. Ada beberapa hal yang saya rasa perlu dibenahi tapi
mungkin tidak bisa secara gamblang dan terang – terangan diungkapkan, oleh
karena itu, saya berharap suatu saat nanti, saya bisa menjadi seorang yang
memiliki kekuasaan dan pengaruh untuk membuat PPAB maupun MTI itu menjadi lebih
baik, minimal menurut subyektivitas saya, dan saya mengusahakan obyektivitas. Jika
yang baik itu memang dipandang baik oleh masa, maka akan saya lanjutkan, namun
jika yang baik itu dipandang kurang atau bahkan tidak baik, maka perlu ditinjau
ulang tentang kebijakan saya tersebut, namun tetap akan saya perjuangakan.
Mungkin itulah
hal – hal yang bisa saya pikirkan sekarang tentang apa pun yang mungkin saya
bisa lakukan nanti, ketika sudah menjadi anggota Keluarga Mahasiswa Teknik
Industri. Saya berharap, saya benar – benar bisa mendapatkan apa yang saya
inginkan di PPAB ini dan bisa mewujudkan semua cita – cita saya nanti. Semoga panitia
dan senior MTI bisa benar – benar mengerti apa yang calon anggota butuhkan dan
bisa memanfaatkannya dengan sebaik – baiknya, karena saya pikir, bahwa calon
keluarga haruslah diperlakukan sebagai calon keluarga, bukan yang lainnya. J
Semoga apa yang
saya tulis bisa memberikan manfaat bagi yang membacanya dan bisa diambil
hikmahnya (kalo ada ya, kalo nggak ada ya nggak usah, hehe).
Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Catatan : Post ini adalah salah satu tugas liburan PPAB MTI
2012. Saya baru bisa post hari ini, Rabu 15 Agustus 2012 pukul 15.21 sore karena
kendala laptop dan internet. Saya meminta maaf yang sebesar – besarnya kepada
panitia atas keterlambatan yang amat sangat ini, dan teman saya Very Boy Gultom
selaku PJ serta para buddy – buddy saya yang telah mengingatkan saya untuk
mengerjakan tugas ini, semoga amalan kalian bernilai pahala di sisi-Nya, aamiin
J

